Resensi Buku


Hallo teman-temanku semua, semoga kabar baik selalu menyertai kalian semua. Pada kesemepatan kali ini, saya akan mencoba membuat resensi dari buku novel “Orang-orang Biasa” karya Andrea Hirata..

 

 


Judul: Orang-orang Biasa (Ordinary People)
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: xii + 300
Cetakan: Pertama tahun 2019
Genre: Fiksi 

Karya Andrea Hirata ini menurut saya berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Di novel Ayah ataupun Sirkus Pohon, Andrea Hirata bercerita dengan ritme yang kadang cepat, kadang melambat. Di novel ini cenderung lambat. Bagi yang sebagian orang mungkin sedikit membosankan hingga pertengahan halaman. Satu poin yang saya ingat. Penggunaan Bahasa lokal tidak banyak. Kalimat-kalimat sedikit mendayu ala Andrea Hirata kala menulis tentang percintaan di Novel Ayah pun tidak ada. Benar-benar minim sajak-sajak yang mendayu-dayu. 

Di novel ini menceritakan masa sekarang. Sehingga muncul kata-kata seperti Facebook, internet, bahkan di berbagai halaman menyebut Kupi Kuli. Warung kopi yang ada di Museum Kata milik Pak Cik Andrea Hirata. Ritme yang cukup santai ini berbanding terbalik dengan beberapa bab menjelang tamat. Berbagai cerita dibuat makin cepat, meski begitu tak banyak kejutan yang didapatkan.  

 

Andrea Hirata selalu menyisipkan pesan-pesan di tiap novelnya. Entah sebuah motivasi, kegigihan, pengorbanan, dan pastinya keluarga. Di novel ini sedikitnya ada empat poin yang bisa saya urai. Pertama; pesan yang paling kelihatan di novel ini adalah tentang kritikan pedas pada orang-orang di atas. Siapapun mereka, orang-orang yang tidak pernah melihat ke bawah. Bagaimana kondisi masyarakat di tempat yang lain masih berjuang dari kemiskinan. Kedua; sentilan bagi dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Banyak pendidikan yang harus ditebus dengan harga mahal. Banyak jurusan yang tidak bisa hanya mengandalkan kejeniusan, kepintaran, namun juga harus ada uang sebagai jaminan. Ketiga; pengorbanan orang tua dan kesetiaan kawan. Pada bab-bab tertentu diceritakan bagaimana orang tua ingin anaknya sukses. Beliau rela membanting tulang, memeras otak agar bisa menjadikan anaknya hidup lebih baik. Hal ini juga menyampaikan bahwa kawan sebenarnya adalah ketika mereka berusaha untuk berjuang bersama meski sama-sama dalam masa sulit. Keempat; tentang sebuah kejujuran dalam bekerja. Jauh di ujung negeri ini masih banyak orang-orang yang jujur, bertanggungjawab. Tidak tergoda materi meski hidup pas-pasan. Benar-benar mengabdi untuk negeri. Berbeda dengan cecunguk-cecunguk koruptor di kota-kota besar. 

 

 

Komentar